Fast fashion menjadi hal yang belakangan kerap menyita perhatian banyak orang, tentang lemari pakaian yang kerap diisi, tentang orang-orang dibaliknya yang letih diajak berlari.
Dalam seminggu ini sudah berapa kali menekan keranjang belanja pakaian di layar? Apakah pilihan untuk berbelanja telah kita lakukan dengan sadar?
Kebutuhan dan Keinginan dalam Genggaman Layar
“Saya membeli pada saat perlu, biasanya 2-5 kali checkout dalam sebulan,” jelas Ariska mengenai kebiasaannya dalam berbelanja di e-commerce. Baginya pakaian sangat memengaruhi suasana hatinya sehari-hari. Terutama kegemarannya dalam mix and match outfit. Serupa, ini juga diamini oleh Sinta yang juga memilih e-commerce sebagai pilihan pertama dalam berburu pakaian. Bagi Sinta, cara berpakaian mempengaruhi kepercayaan dirinya,“Menurutku cukup penting. Karena pakaian menjadi salah satu faktor yang membuat aku lebih percaya diri. Ketika aku memakai pakaian yang membuatku nyaman dan sesuai dengan seleraku, itu akan meningkatkan mood dan kepercayaan diri pada saat itu.”
Fleksibilitas waktu dan ruang yang ditawarkan ketika berbelanja e-commerce menjadi salah satu alasan Sinta dan banyak konsumen lainnya memilih berbelanja online. Belum lagi promo belanja yang berlangsung tiap bulannya, “Jujur aku adalah tipe orang yang suka cari flash sale cuma sering telat atau kelewat,” cerita Jung, konsumen perempuan lainnya. Dirinya juga membagikan pengalamannya berbelanja pakaian yang lebih murah di e-commerce dibanding berbelanja langsung di toko.
Namun, pembahasan mengenai fesyen tidak pernah sesederhana itu. Bagi sebagian orang, preferensi pakaian juga dipengaruhi oleh lingkungan. Seperti yang dialami oleh Dharma, “Pernah (terpengaruh membeli pakaian), misalnya ketika teman mengatakan bahwa pakaian tertentu lebih cocok atau lebih tren untuk dipakai, sehingga saya tertarik untuk membelinya.” Hal yang sama juga diutarakan oleh Dyana, “terdorong si pernah ya tapi bukan karena penilaian atau pendapat orang, lebih ke ngeliat orang pake itu terkesan bagus.”
Fenomena ini tidak terlepas dari bagaimana dunia fesyen memaknai kata “baru” dan “lama” bukan hanya sekadar antonimi yang menunjuk waktu. Bagi sebagian orang, hal baru-pakaian baru diartikan sebagai sesuatu yang segar dan menandakan status sosial yang lebih dipandang. Sedangkan lama-pakaian lama, acap dituduh usang dan memunculkan stigma negatif yang menekan penampilan seseorang. Tekanan penampilan itu tidak terlepas kaitannya dengan aspek sosial yang menempatkan seseorang dengan pakaiannya sebagai objek untuk dinilai dan dievaluasi. Mereka, utamanya perempuan, dipaksa selalu mengikuti tren dan dituntut berbeda untuk dapat diterima. Tekanan untuk selalu tampil “baru” ini menciptakan kerentanan psikologis berupa rasa tidak cukup / tidak percaya diri.
Pada situasi tersebut, gonta-ganti pakaian seolah menjadi jawaban. Padahal, di lain sisi, ada harga yang mesti dibayar untuk setiap pakaian berkualitas yang dihasilkan. Sedangkan kemampuan tak selalu sejalan dengan tuntutan. Pakaian berkualitas belum menjadi sesuatu yang inklusif untuk saat ini. Pada situasi ini, mode fesyen cepat atau akrab disebut fast fashion seolah terlihat datang menjadi solusi. Memang, fast fashion tak sesimpel masalah kepercayaan diri dan tren fesyen yang cepat berubah saja. Ia hadir dan bertahan karena banyak aspek dan faktor di sekitarnya. Termasuk bagaimana masyarakat didorong untuk terus berada dalam sistem yang membelenggu kebutuhan untuk terus berpakaian dengan model-model terbaru. Dalam kondisi demikian, fast fashion tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga kebutuhan psikologis untuk merasa diterima secara sosial.
Yang Tidak Terdengar dari Fast Fashion
Di tengah menjamurnya industri pakaian yang datang dan pergi silih berganti lewat persaingan gaya dan harga di pasaran, ada masalah yang luput untuk diperhatikan karena sistem mendorong individu melihat hasil semata ketimbang proses panjang yang ada di baliknya. Ketika sebuah pakaian dikenakan sebagai keperluan sandang kita, muncul pertanyaan sederhana yang semestinya membuka ruang pada sebuah argumen sederhana, dari mana pakaian-pakaian ini berasal?
Binar gemerlap arus fast fashion senantiasa memunculkan variasi baru yang tak berkesudahan. Dampaknya terasa sekali pada salah satu profesi yang berkelindan dengan produksi pakaian yang kita gunakan saat ini, yaitu para penjahit. Target demi target dikejar seakan menyembunyikan fakta bahwa ada orang-orang yang tengah duduk entah berapa lama di depan mesin jahit demi seutas pakaian yang dibanderol dengan harga murah meriah di layanan e-commerce.
Kilas balik singkat datang dari pengalaman Kartono, seorang penjahit paruh baya yang sudah sejak 2002 silam bermukim sekaligus menjadi motor penggerak dari industri mode di sudut kota Denpasar. Kartono awalnya bekerja di industri garmen di area jalan Imam Bonjol, lalu mencari peruntungan ke Rusun Pondok Rukun, di daerah Kepaon, Denpasar.
Kartono menjelaskan pengalaman menjahitnya selama bekerja untuk layanan e-commerce yang sudah berhenti dilakukan sejak empat tahun lalu. Ia menjelaskan mekanisme permintaan yang tinggi membuat dirinya tidak kuat untuk melanjutkan pekerjaan menjahit di usianya yang sudah menginjak 60 tahun lebih. “Sempat ikut-ikut yang punya order (salah satu e-commerce) itu juga gak kuat tenaganya kayaknya udah gak kuat Ikut order (nama e-commerce), pagi ngambil ada 5 warna gitu lo, jam 12 siang itu diminta cepet gitu lo.”
Pada masa itu, permintaan belanja produk pakaian di layanan e-commerce memang sedang naik daun, walau perlahan tren kian memudar seiring perubahan minat pasar. Namun, permasalahan utamanya justru datang dari standar kelayakan upah dan kesejahteraan pekerja yang masih jauh dari kelayakan. “ empat, tiga tahun tidak ikut, tidak kuat ongkosnya tidak seberapa….Tapi itu ongkosnya murah tiga ribu…tiga ribu, tiga setengah, empat ribu” kenang Kartono ketika ada masanya ia diupah dengan nominal rupiah yang begitu minim dari sepotong pakaian.
Aktivitas menjahit harian pun didorong atas pemenuhan target yang ditentukan sejak awal untuk memenuhi membludaknya permintaan pakaian murah dan cepat di e-commerce. “Jahitnya cepat ya setengah hari tiga puluh, tiga puluh pakaian, tiga puluh setel…Dua orang sama ibunya (pekerjaaan diambil bersama istri Kartono).” kenang Kartono.
Namun, selayaknya istilah ‘ada harga, ada kualitas’ yang kerap digaungkan, memang pada dasarnya permintaan target yang tidak dibarengi dengan kelayakan akan kualitas produk dan kesejahteraan para pekerjanya membuat standar pakaian menurun. “Murah kualitasnya, juga (hasil) jahit juga enggak seberapa.” pungkasnya.
Beranjak dari e-commerce, Kartono saat ini lebih menemukan kenyamanan dan kelaikan upah dari pekerjaan menjahit pakaian yang tidak mengejar arus tren lewat menjahit pakaian pekerja, seperti seragam kantor dan setelan pekerja hotel “Ya kerjanya santai harganya satu pcs 20 ribu. Satu hari dapat lima.”
Narasi dari Kartono adalah satu potongan cerita, mewakili pengalaman pekerja yang terbawa arus dalam mengikuti tuntutan fesyen. Dr. Christabel Annora Paramita, M.Sc, dosen Fakultas Industri Kreatif Universitas Negeri Surabaya menyampaikan bahwa permasalahan fast fashion memang berkaitan erat dengan persoalan pekerja, “tidak lupa juga banyak sekali di industri Fast Fashion yang mempekerjakan anak di bawah umur, belum lagi banyak perusahaan garmen yang tidak memperhatikan keselamatan kerja dan kesejahteraan karyawannya.”
Fenomena yang sama terjadi ketika Hari Raya di Bali
Percepatan perubahan fesyen nyatanya tak hanya terjadi pada gaya pakaian yang biasa digandrungi anak muda, pola yang sama terlihat pula pada pakaian adat Bali yang kerap digunakan saat beribadah. Di Bali, frekuensi penggunaan kebaya oleh perempuan terhitung cukup tinggi, dengan banyaknya hari raya keagamaan dan upacara adat yang kerap mewarnai kehidupan masyarakat Bali. Bukan perkara sulit untuk menemukan pedagang kebaya di Bali, bahkan setiap pasar tradisional biasanya memiliki paling tidak satu pedagang yang khusus menjual pakaian adat Bali seperti kebaya, kamen, selendang, udeng dan lain-lain. Menjelang hari raya keagamaan seperti Galungan dan Kuningan, tingkat permintaan kebaya pun akan semakin meningkat.
Saat ini, kebaya memiliki banyak model yang beragam, percepatan fesyen menyebabkan model kebaya yang banyak disukai berubah dari waktu ke waktu. Ketut Swasti, salah satu pedagang kebaya di Pasar Badung menyatakan bahwa perubahan tren kebaya bahkan bisa terjadi dalam hitungan jam. Swasti pun menjelaskan bahwa sebetulnya percepatan fesyen pada kebaya sudah terjadi sejak dulu, tetapi pada saat itu pedagang masih memiliki kontrol terhadap pasar. “Kita kalau dulu apa yang kita punya itu kita pasarin. Kalau sekarang ndak, apa pun kita punya kalau sudah enggak ngikuti modelnya sekarang, trennya sekarang, enggak bisa (dijual -red).”
Ia menambahkan bahwa dulu ia masih bisa menghabiskan stock kebaya lama sebelum akhirnya mengeluarkan kebaya dengan model baru untuk dijual. Namun sekarang, percepatan fesyen yang dibarengi dengan perkembangan teknologi menyebabkan pedagang kebaya tak lagi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap tren kebaya di pasaran. Hal ini membuat pedagang seperti Swasti harus awas dengan perkembangan model kebaya, Swasti pun mengaku kewalahan mengimbangi cepatnya perubahan model dalam dunia fesyen. “Pasti itu, itu sudah jamin sudah 100% kewalahan (mengikuti tren percepatan fesyen-red) karena kita kenapa? Kalau kita enggak ngikuti, kita yang ketinggalan. Kalau kita ngikuti, kita yang capek,” akunya.
Banyaknya model tren kebaya yang berubah terlalu cepat memberikan dampak pada para pedagang, Swasti sendiri mengaku hanya mengambil sedikit kebaya dari supplier untuk masing-masing model kebaya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi potensi kerugian di masa depan. “Makanya kita kalau bisa sih ikuti ya ngambil dikit-dikit biar bisa. Soalnya kita trennya itu bukan sekarang (muncul tren-red) lagi sebulan baru ada tren (baru-red), enggak. Sekarang (muncul tren-red) bisa lagi satu jamnya ada tren baru.” Apabila kebaya yang dijualnya sudah keluar dari tren di pasaran, maka Swasti terpaksa mengobral kebaya yang ia anggap tak akan laku lagi di pasaran dengan harga yang murah.
Selain berdampak pada pendapatan yang diperoleh, percepatan fesyen juga menyebabkan konsumen tak lagi menaruh perhatian pada kualitas kebaya. Banyak konsumen yang kini hanya memedulikan bagian luar yang tampak dari kebaya yang mereka gunakan, tanpa peduli pada kualitas bahan dan teknik jarit yang melekat pada kebaya tersebut. Kini pertanyaan yang muncul bukan lagi soal berapa lama kebaya itu dapat mereka gunakan, tetapi beralih menjadi apakah kebaya yang akan mereka beli sedang ramai diperbincangkan di sosial media? Tak lagi menyoal jahitan yang rapi, atau kualitas kain yang apik, kini semua beralih pada model yang sedang tren dan seberapa cepat mereka dapat mengetahui perubahan model tersebut.
“Kalau orang Bali itu ngambil kualitas dulu dia. Gimana biar kualitasnya bagus, biar dia bikin nama lah biar bagus gitu. Tapi sekarang pasarannya enggak bisa gitu. Yang penting dia dapat murah, bajunya sudah bermodel, sudah. Gak peduli mau jahitannya jelek, mau bahannya jelek, gak peduli,” tutur Swasti mengungkapkan pendapatnya tentang kualitas kebaya yang digunakan belakangan ini. Swasti berpandangan, bahwa pakaian yang ramai digunakan saat ini hanya berpaku pada tren, tidak lagi mempermasalahkan soal kenyamanan. “Kalau sekarang enggak, mau murah mau mahal, yang penting trennya saya. Fesyen-fesyen sekarang tuh mengikuti tren, bukan mengikuti kenyamanan. Makanya kalau ada yang mempertahankan kualitas sekarang ya tidak bisa maju,” imbuh Swasti.
Tren Fesyen yang Berkelanjutan
Dibalik hingar-bingar fast fashion, Dr. Christabel Annora Paramita, M.Sc menyampaikan angin segar, bahwa sejak 2024 ada kecenderungan tren yang mengarah ke sustainability, “trend sebenarnya adalah faktor yang cukup paradoks. Saat ini, mulai dari tahun 2024 sampai sekarang dan sampai tren tahun 2027 / 2028, tren forecast di bidang fashion sudah meliputi sustainability, sehingga mungkin kita bisa sebutkan “to be sustainable is the new cool”
Lebih lanjut dirinya menjelaskan menjadi sustainable tidak harus menjadi usang atau ketinggalan zaman, “karena baju lama bisa di upcycle kembali, lalu baju-baju yang tergolong slow fashion juga bisa dibranding menjadi sesuatu yang modern.”
Kecenderungan tersebut dapat ditemui misalnya ketika momen pre-wedding yang mana menggunakan pakaian kebaya milik orang tuanya terdahulu atau penggunaan kain bekas neneknya untuk berkegiatan. Tetap terlihat cool dan menarik. Tren demikian perlu menjadi sesuatu yang dibiasakan, mulai dari diri sendiri, isi lemari dan keranjang e-commerce. Sebab pembahasan mengenai sustainability tidak terlepas “people, planet, prosperity, peace, and partnership,” sebagaimana disampaikan oleh Dr. Christabel Annora Paramita, M.Sc dalam sesi akhir wawancara yang dilakukan secara tertulis.
Tentang Penulis
Admin Mesuluh
Menulis sepenuh hati untuk menyuarakan apa yang acap kali terbungkam di sudut-sudut pulau Dewata.
Lihat Profil Penulis →